Catatan Pena Salim: Sebuah blog berisikan dunia kocak saleem beserta pelajaran-pelajaran kehidupan, kritikan dan tanggapan saleem atas segala hal
Senin, 05 November 2018
Kopikir Bareng HIMMAH NW Jakarta: Kebhinekaan, Hoax, dan Mahasiswa
Serutan demi serutan kopi kunikmati, di tengah penjelasan bersahaja Kakak Yos Elopere, Pengurus Forum Mahasiwa Papua pada Kopikir Bareng HIMMAH NW Jakarta. Serutan itu tidak hanya mengaktifkan saraf perasa lidahku, tapi juga mengkelindankan ruang-ruang pemikiran, mencerna, dan mencoba mengingat beragam informasi sepadan, yang pernah kudengar atau pun kubaca, selain dari kalam-kalam Kakak Yos.
Tentu ada banyak hal yang disampaikan, tak jauh-jauh, bertumpu pada tema yang diusung “ Merawat Persatuan dalam Bingkai Kebhinekaan”. Belum lagi, dipandu oleh moderator bergayakan talkshow, untuk membuat acara ini lebih interaktif.
Banyak hal diulas, tentunya diawali dengan paparan singkat pengenalan diri dan pengenalan komunitas atau pun organisasi, baru merambat menuju tema, yang disarikan ke dalam pertanyaan mengenai agama, persatuan, dan realitas kebangsaan saat ini.
Senin, 08 Januari 2018
Kebermanfaatan Tanpa Akhir
“Kutuliskan serbuan nyamuk,
kutuliskan hawa panas, kutuliskan lalu lintas pikiranku yang padat, semuanya kutuliskan
untuk mendatangkan kembali kejernihan pikir, semangat pergerakan, semangat
perjuangan, yang telah ditimbun beribu kabar status.”
Nyinggg……nyingggg…..nyamuk-
nyamuk beterbangan mengitariku, menusukkan jarum kecilnya ke tangan dan kakiku.
Entahlah, apa istilahnya dalam kamus biologi, sederhananya aku menyebut bagian
tubuh dari nyamuk itu jarum, karena tusukannya bak jarum, bagiku. Beberapa kali tanganku
menyambar ke berbagai arah, menghalau nyamuk- nyamuk yang terus menyerang tanpa
kenal lelah. Sesekali ia kubiarkan menusuk
dan menyedot darahku, tapi rasa gatal yang ditimbulkan membuatku tak kuasa
untuk menahan, akhirnya lagi- lagi kulayangkan tangan ini, mengusir mereka, namun,
tetap saja mereka datang kembali.
Tak hanya
nyamuk, hawa panas yang terasa di ruangan tempatku duduk, sampai membuatku
berpeluh, padahal tidak ada aktifitas berat yang kulakukan, hanya saja
pikiranku yang terus bercabang ke segala arah. Terus meloncat dari tema satu
menuju tema dua, tema tiga, tema empat, tema lima, dan tema- tema yang lainnya.
Pikiranku acapkali
menahanku untuk berbuat. Ingin rasanya segera merangkai ide dan gagasan pada
notebook kecilku, tapi selalu saja tertahan oleh pikir yang tiba- tiba melesat
pada permasalahan yang kurasa perlu untuk segera diselesaikan. Ingin rasanya
juga membangun diskusi interaktif di jagat socmed, namun lagi- lagi tertahan
oleh pikirku. Terlalu banyak hal yang berseliwaran dalam alam pikirku, aku, bak
seorang dermawan yang menganggap orang – orang yang berseliweran di depan
rumahku adalah semuanya penting dan harus dijamu, sayangnya, jamuan tetaplah
jamuan, ia tidak akan menjadi banyak, jika tidak diperbanyak.
Tapi, satu
hal yang aku tekankan dalam kegalauan pikirku,”Waktuku haruslah bermanfaat.” Untuk
itu, aku mulai merangkai kata, menulis kegalauanku. Langkah ini, menurut
Hernowo, Dosen Bahasa Indonesia yang pernah menjadi guru pembangkit semangat
menulis, adalah sebuah langkah tepat untuk menghapus file- file yang tidak
berguna dalam otak. Kutuliskan serbuan nyamuk, kutuliskan hawa panas,
kutuliskan lalu lintas pikiranku yang padat, semuanya kultuliskan untuk
mendatangkan kembali kejernihan pikir, semangat pergerakan, semangat
perjuangan, yang telah ditimbun beribu kabar status.
Sedikit demi
sedikit, semangat yang kutanamkan di tahun 2018 ini, insha Allah hingga akhir
hayat ini, mencuat kembali bahwa kebermanfaatan bagiku adalah “kebermantaatan
tanpa akhir.
3L, Rumah
Perjuangan, 09 Januari 2018, 01.05.
Fotografer: AS
Selasa, 08 Agustus 2017
Lihatlah Sejarah, tapi Hindari Salah Kaprah Pada Sejarah
Seminggu
lebih waktu yang singkat bila digunakan untuk bersenang-senang, tetapi waktu
yang cukup lama jika disi dengan hal-hal positif, hal yang membawa
keberkahan pada diri. Karena alangkah merugi, jika tak ada apapun yang bisa
kita pelajari setiap hari.
Itulah
yang kemudian membuatku mulai merangkai kata, menelisik satu ayat kitab suci,
berharap inspirasi dan hal-hal baru terserap oleh pikirku. Bukankah al-Qur’an
adalah kitab petunjuk? Petunjuk itulah yang kuharapkan muncul menjadi sikap
dalam kehidupan ini.
Sebuah
ayat dari surah ar- Rum, tepatnya ayat ke 42 yang berbunyi,
Katakanlah
(Muhammad), “bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang
dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)”
Sebuah
ayat yang mengajak untuk berpetualang, bepergian pada bumi Allah ini, bepergian
bukan sekedar bepergian, tetapi bepergian untuk belajar, untuk mengetahui apa
yang terjadi pada orang-orang dahulu, yang ternyata banyak dari mereka
mempersekutukan Allah.
Aku
mulai berfikir, memang apa yang terjadi kepada mereka? kenapa banyak dari
mereka mempersekutukan Allah, apakah itu sebuah kesalahan?
Baiklah,
mari menelusuri penjelasan Syaikh Wahbah al- Zuhaili, terkait ayat ke 42 surah
ar-Rum ini. sebelum beranjak lebih jauh, Surah ar-Rum termasuk ke dalam surah
makiyah dengan jumah ayat sebanyak 60 ayat. Berbicara makiyah, maka
pembahasan-pembahan yang ada pada surah ini menyangkut tentang akidah, iman,
tauhid, balasan di akhirat dan sebagainya. Bisa disimpulkan ayat ke 42 surah
ar-Rum ini pun demikian, terkait dengan pembahasan-pembahasan ini.
Semisal
mempersekutukan Allah, itu berarti tidak bertauhid, ini menunjukkan banyak dari
orang-orang terdahulu tidak bertauhid, menunjukkan pula banyak dari mereka
menolak rasul-rasul Allah, yang membawa ajaran tauhid. Apakah benar demikian?
Biarkan tafsir Syaikh Wahbah al-Zuhailli berbicara.
Syaikh
Wahbah al- Zuhaili mengelompokkan ayat ini ke dalam ayat terkait balasan bagi
para Mufsidin (perusak) dan orang-orang kafir serta balasan bagi orang-orang
yang beriman. Menurut syaikh, ayat ini terkait perintah Allah kepada rasulullah
untuk menyampaikan kepada orang kafir, para perusak dan orang-orang musyrik
untuk bepergian ke negeri mereka lalu
melihat dengan penuh perhatin, melakukan penelitian mengenai apa yang menimpa umat-umat
terdahulu, bagaimana Allah menghancurkan mereka karena kekafiran dan kejelekan
amal mereka.
Apa
yang bisa kita dapatkan dari penjelasan ini? kita bisa melihat bagaimana cara
Allah menyadarkan orang-orang kafir, mereka diminta untuk menyaksikan sendiri
bagaimana orang-orang terdahulu dihancurkan, yang menunjukkan bukti kebenaran
dan kekuasaan Allah. Mereka diminta melihat dan meneliti sejarah.
Tepat
sekali, sejarah, ya, memang benar demikian, sejarah adalah sesuatu yang penting
bagi kita. Sejarah menjadi ajang pembelajaran bagaimana menghadapi kehidupan.
Sejarah menjadi acuan kesalahan yang dilakukan orang-orang terdahulu tidak kita
lakukan, dan kebaikan mereka bisa kita praktikkan. Nilai-nilai kehidupan,
kebaikan, kesopanan, adab, itulah yang kita tarik dari sejarah, bukan malah
terpaku pada aksesoris-aksesoris manusia masa lalu, lalu kita hiaskan pada
diri. Bukan itu yang kita hiaskan, yang penting adalah menghiaskan nilai-nilai
kehidupan, kebaikan, kesopanan, dan adab-adab yang baik dari manusia masa lalu.
Intinya, mari melihat sejarah, dan jangan salah kaprah terhadap sejarah.
Sumber Foto:
http://cdn2.tstatic.net/travel/foto/bank/images/ilustrasi_20170122_200218.jpg
Langganan:
Komentar (Atom)

