Rabu, 03 Agustus 2016

“Tha Siin Mim”


Sumber Foto: www.rumahquranalkaiyis.com

Tha siin mim
(QS. Asyuara (26): 1)

Ayat inilah, ayat-ayat yang termasuk membingungkan semua orang. Pasalnya, tidak banyak orang yang mengetahui maknanya. Di dalam tafsira-tafsiran para mufassir, terutama mufassir ahlusunnah, ayat-ayat ini tidak ditafsirkan, mereka sering mengungkapkan “hanya Allah yang tahu maknanya”.

Iya, ayat-ayat ini memang telah membingungkan semua pihak, ayat ini kita kenal dengan huruf muqathaah, atau disebut juga dengan “the mysterious letter”. Iya, ayat-ayat ini memang sangat misterius.

Meski begitu, beberapa ulama dan riwayat juga mencoba menjelaskan prihal ayat ini. Ada yang mengkait-kaitkannya dengan sifat Tuhan, Nabi,  ada juga yang mengkaitkannya dengan para sahabat, dan lain-lain. Kebanyakannya yang berani menafsirkan ayat-ayat yang seperti ini adalah mufassir-mufassir sufi. Terutama dari kalangan mufassir syiah.

Bagi yang beranggapan bahwa segala apa yang ada dalam al-Qur’an memiliki makna yang harus dipahami, maka huruf muqathaah tentu memiliki makna yang harus dipahami manusia. Mereka beranggapan bahwa al-Quran adalah petunjuk, sebagai petunjuk tentu ia harus bisa dimengerti.

Ada benarnya juga, tetapi kalau bagi saya tentu, menemukan makna dari huruf muqathaah ini tentu jauh sekali. Namun, huruf muqathaah ini nyata telah mengusikku, karena banyak tafsiran mufassir dan para peneliti al-Qur’an yang seperti mereduksi kemuliaan al-Qur’an dan nabi.

Karena itu, rencananya skripsiku akan meneliti mengenai huruf muqathaah ini.

Ada banyak hal yang mesti ditelusuri dari huruf muqathaah ini, akan ada banyak hal yang akan kita dapatkan. Karena ia misterius, tentu ia adalah sesuatu yang spesial.

Selasa, 02 Agustus 2016

Urusanmu menyampaikan bukan memaksakan

Sumber Foto: www.hipwee.com
Sungguh, kami menurunkan kepadamu kitab (al-Qur’an) dengan membawa kebenaran untuk manusia; barangsiapa mendapat petunjuk maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa sesat maka sesungguhnya kesesatan itu untuk dirinya sendiri, dan engkau bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka. (QS. Az-Zumar (39): 41)

Dari ayat di atas kita tahu bahwa, dan memang kita sudah bersentuhan dengan apa yang telah diturunkan Allah swt kepada nabinya. Realitas al-Qur’an telah kita lihat nyata. Ayat-ayatnya sendiri membenarkan bahwa al-Qur’an  mengandung kebenaran , petunjuk, pedoman bagi umat manusia.

Al-Qur’an memang diturunkan kepada Muhammad saw, tetapi kebenaran, pedoman, petunjuk, yang dikandungnya, untuk disampaikan oleh nabi Muhammad saw. Dalam perjalanan penyampaian itu, tentu ada yang menerima dan ada yang menolak. Orang yang menerima berarti orang yang mendapatkan petunjuk dari al-Qur’an, sementara yang menolak maka ia adalah orang yang tersesat.

Tugas nabi menyampaikan, urusan menerima tidak menerima bukan urusan nabi. Semua akan dipertanggungjawabkan sendiri. Sekilas dan gamblang ayat tersebut bermakna seperti itu.

hal ini seharusnya menjadi contoh kita di dalam berdakwah ataupun menyampaikan kebenaran kepada orang lain. Jika memang kita merasa apa yang akan kita sampaikan ini benar, maka sampaikanlah. Tapi ingat, jangan memaksakan kepada orang untuk menerima apa yang anda sampaikan. Atau bahkan jangan sampai mengambil jalan lain agar orang menerima, anda melakukan kekerasan.

Kalau sampai anda membawa kekerasan, maka anda termasuk orang yang melanggar batas dan ketentuan yang telah digariskan. Kenapa anda tidak perlu memaksakan, karena semunya akan kembali kepada diri mereka, bukan kepada diri anda.  Kecuali apa yang anda sampaikan bukanlah kebenaran, maka pertanggungjawaban juga ada pada diri anda.  Mari kita tanamkan hal ini di dalam menyampaikan kebenaran, “sampaikan bukan paksakan”.




Senin, 01 Agustus 2016

Dua Hal dari Kisah Ibrahim as

Sumber Foto: nsqjuara.com


“Kekerasan” bentuk lahiriah akal yang terjerat Nafsu dan Membela Tuhan sama saja menjadikan-Nya berhala.

Maka dia (Ibrahim) menghancurkan (berhala-berhala itu) berkeping-keping, kecuali yang terbesar (induknya); agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata, “siapakah yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sungguh, dia termasuk orang zalim. Mereka (yang lain) berkata, “kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala ini) namanya Ibrahim. Mereka berkata, “(kalau demikian) bawalah dia dengan diperlihatkan kepada orang banyak, agar mereka menyaksikan.” Mereka bertanya, “apakah engkau yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?”. Dia (Ibrahim) menjawab, “sebenarnya (patung) itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada mereka, jika mereka dapat berbicara.” Maka mereka kembali kepada kesadaran mereka dan berkata, sesungguhnya kamulah yang menzalimi (diri sendiri).” Kemudia mereka menundukkan kepala (lalu berkata) “engkau ( Ibrahim ) pasti tahu bahwa (berhala-berhala) itu tidak dapat berbicara. Dia (Ibrahim) berkata, “mengapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) mendatangkan mudarat kepada kamu? Celakalah kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah! Tidakkah kamu mengerti?” mereka berkata, “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak berbuat” (QS. al-anbiya (21): 58-68)

Ayat-ayat ini menunjukkan kepada kita bagaimana nabi Ibrahim as menyadarkan kaumnya dengan cara yang brilian. Namun, kita juga melihat, bagaimana orang-orang yang sudah tersadarkan secara akalnya, tetapi masih dikuasai nafsu merespon kesalahan mereka.

Ibrahim as ingin menyadarkan kaumnya atas apa yang selama ini mereka sembah, benda yang tak bisa memberikan manfaat, benda mati yang tak bisa bergerak, tuhan-tuhan yang harus dibela dan dijaga oleh hamba-hamba mereka sendiri. Bagaimana bisa mereka disebut dengan “Tuhan”, jika ia dibuat oleh hambanya sendiri.

Bagi kita, manusia yang hidup di zaman modern,  tentu, tingkah kaum Nabi Ibrahim yang menyembah benda mati sangat tidak masuk akal, akal mereka tidak difungsikan kah? Kita bisa berkata begitu, tapi ini nyata terjadi di zaman nabi Ibrahim.  Bisa jadi akal mereka tertutup karena ketakutan mereka terhadap sosok Raja yang siap menghukum mereka jika berbeda keyakinan. Ataukah memang iya, akal mereka tidak difungsikan.

Karena itu kemudian, Ibrahim as menggunakan trik brilian, ia menghancurkan berhala-berhala mereka, dengan menyisakan berhala besar. Ibrahim ingin menjebak mereka. Benar sekali, melihat semua sesembahan mereka hancur berantakan, yang tersisa hanyalah berhala besar. Mereka memanggil Ibrahim as, karena hanya Ibrahim as, sosok masyarakat yang sangat tidak suka dengan sesembahan mereka.