Rabu, 31 Agustus 2016

Ampunan Bagi Yang Tak Berdosa


Sumber Foto: www.aktual.com

Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang  memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka Ampunan dan Pahala yang besar.
(QS. Al-Ahzab (33): 35)

Dari ayat di atas, dapat kita mengerti bahwa antara laki-laki dan perempuan tidak ada perbedaan dalam hal relasi kepada Tuhan. Semua memiliki derajat dan kesempatan yang sama di sisi Tuhan. Maka tidak ada pengecualian dalam hal relasi dengan Tuhan, sabar bukan Cuma untuk perempuan, memelihara kehormatan bukan Cuma untuk perempuna, bersedekah bukan Cuma untuk laki-laki. Jadi, laki-laki dan perempuan sama saja dalam hal ketaatan kepada Tuhan.

Kalimat terakhir ayat ini menyebutkan bahwa mereka telah disediakan ampunan dan pahala yang besar, ini menjadi tanda tanya, kenapa orang yang sudah menjaga ketaatan, bersedeqah, berpuasa dan lain-lain masih saja disediakan ampunan. Logikanya, hanya orang berdosa kemudian bertaubat yang diberikan ampunan.  Disediakan  pahala baru logis, karena mereka menjalankan ketaataan. Ini kita tahu mereka selalu menjalankan ketaatan,menyebut nama Tuhan, menjaga kehormatan, bagaimana ada celah dosa?

Ini masih menjadi tanda tanya besar, apa makna ampunan di sini, apakah ampunan bukan hanya milik pendosa, ataukah mereka (yang disebutkan ayat) sewaktu-waktu bisa melakukan dosa, tetapi sudah disiapkan ampunan kalau mereka bertaubat? Ini perlu mendapat jawaban.

Memang potensi berbuat dosa dimilki oleh semua orang. Namun, ketika disebutkan bahwa mereka yang bersedekah, taat, khusyuk, benar, darimana mereka berbuat dosa? 

Tuhan Bersama Yang Bertakwa


Sungguh Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan
(QS. An-Nahl (16): 128)

Sumber Foto: Khazanah. repulika.co.id
Ayat ini menegaskan bahwa Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang yang berbuat kebaikan. Kita bertanya-tanya, apakah Allah hanya bersama orang yang bertakwa dan berbuat kebaikan, bukankah  segala hal terliputi olehNya. Lalu, kenapa dengan orang yang bertakwa dan berbuat kebaikan, apa kekhususan dari mereka, sehingga Allah bersama mereka. Apakah kebersamaan itu, bersama layaknya kita sebagai manusia. Apa efek dari kebersamaan itu, Allah bersama orang yang bertakwa setelah mereka bertakwa atau sesudah mereka bertakwa. 

Bersama dalam ayat tersebut diartikan sebagai kebersamaan yang spesifik, tidak bisa digeneralisir kepada seluruh makhluk. Karena tidak semua makhluk bertakwa dan berbuat kebaikan; di satu sisi, segala hal memang berjalan atas  kuasa-Nya. Namun, tidak bisa disamakan penguasaan dengan kebersamaan.

Kebersamaannya pun tidak sama dengan kebersamaan makhluk, dimana materi bisa bertemu dengan materi di alam materi; bertatap muka, berdiskusi, bermain dan sebagainya. Namun, kebersamaan Allah dengan orang yang bertakwa adalah, kebersamaan yang terpaut oleh kesadaran mental orang yang bertakwa dan berbuat kebaikan. Kebersamaan itulah yang menyebabkan mereka terhindar dari perbuatan cela. Efek kebersamaan itu menjaga makhluk dari hal-hal yang dilarang.

Lalu,  untuk bersama dengan Allah, bukankah kita harus bertakwa dan berbuat  kebaikan, mana yang lebih dulu, kita berusaha berbuat kebaikan dan bertakwa dulu baru Allah bersama kita, atau Allah bersama kita baru kita bertakwa dan berbuat kebaikan?  Agak kewalahan rasanya kalau kita menjawabnya dengan pengertian kebersamaan yang umum. Karenanya, sekali lagi makna bersama di sini adalah lebih khusus.


Apa maknanya? Maknanya adalah penjagaan, menjaganya dengan berbagai hal.

Jumat, 12 Agustus 2016

Kau Berbadan Bumi, Maka bagimu Bumi

Sumber Foto: kantinilmu.com

Dan Allah menciptakan mu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Tidak ada seorang perempuan pun yang mengandung dan melahirkan, melainkan dengan sepengetahuanNya. Dan tidak dipanjangkan umur seseorang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam kitab (lauh mahfuz). Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.
 QS. Fathir (35): 11

Ayat ini membawa kita kepada sumber penciptaan manusia. Dua hal yang secara keilmuwan dan sejarah kita ketahui. Dimana Adam, bapaknya manusia diciptakan Allah dari tanah. Lalu, keturunannya yang tercipta dari air mani.

Tidakkah menjadi pertanyaan bagi kita, kenapa Allah harus menggunakan tanah untuk mencipta adam, lalu, keturunannya dengan air mani? Tentu, kalau kita sandarkan kepada Allah, memang hanya Allah yang lebih tahu. Tapi, tidakkah kita ingin tahu? Tidak bolehkan manusia tahu? Bukankah kita diperintahkan untuk tahu?

Kalau kita kembali kepada bagaimana makhluk lainnya diciptakan, malaikat diciptakan dari cahaya, syaithan dari api, penulis lebih condong kepada bagaimana kemudian habitat ataupun tempat hidup dari makhluk-makhluk Tuhan tersebut. Asal penciptaan mereka sesuai dengan tempat dimana mereka menetap.

Adam tercipta dari tanah, dimana ia ditempatkan di bumi yang memang terdapat tanah, terkonstruksi oleh tanah. Artinya ada kesesuaian antara tempat menetap dengan asal atau materi penciptaannya. Begitu  pula dengan makhluk lainnya. Malaikat yang tercipta dari cahaya, sehingga menyebabkan ia berprilaku seperti cahaya.  Begitu pula dengan syaithan,yang tercipta dari api, yang terus membakar dendam, kebencian, memanaskan nafsu, karena ia memang tercipta dari api.

Apa yang penulis sampaikan adalah secuil, reka-rekaan penulis yang bisa salah dan bisa benar, ini hanyalah stimulus untuk kawan-kawan, agar turut ikut berfikir dan mencari pengetahuan yang sebenarnya. Tentu ada banyak hal, tidak sekedar karena sesuai habitat. Karena itu, mari berfikir dan jangan mudah menyalahkan.
To be continued